Academic literature on the topic 'Bioindikator'

Create a spot-on reference in APA, MLA, Chicago, Harvard, and other styles

Select a source type:

Consult the lists of relevant articles, books, theses, conference reports, and other scholarly sources on the topic 'Bioindikator.'

Next to every source in the list of references, there is an 'Add to bibliography' button. Press on it, and we will generate automatically the bibliographic reference to the chosen work in the citation style you need: APA, MLA, Harvard, Chicago, Vancouver, etc.

You can also download the full text of the academic publication as pdf and read online its abstract whenever available in the metadata.

Journal articles on the topic "Bioindikator"

1

Radermacher, Ludwig, and Heinrich Rudolph. "Grünkohl als Bioindikator." Umweltwissenschaften und Schadstoff-Forschung 6, no. 6 (1994): 384–86. http://dx.doi.org/10.1007/bf02937727.

Full text
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
2

Ueckermann, E. "Leitthema: Wild als Bioindikator." Zeitschrift für Jagdwissenschaft 32, no. 4 (1986): 263–66. http://dx.doi.org/10.1007/bf02241853.

Full text
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
3

Forster, Eva-Maria, Michael Matthies, and Rainer Brüggemann. "Optimierung eines Bioindikator-Meßnetzes." Umweltwissenschaften und Schadstoff-Forschung 5, no. 5 (1993): 286–94. http://dx.doi.org/10.1007/bf02937967.

Full text
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
4

Roziaty, Efri. "REVIEW : KAJIAN LICHEN : MORFOLOGI, HABITAT DAN BIOINDIKATOR KUALITAS UDARA AMBIEN AKIBAT POLUSI KENDARAAN BERMOTOR." Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi 2, no. 1 (2016): 54. http://dx.doi.org/10.23917/bioeksperimen.v2i1.1632.

Full text
Abstract:
artikel ini akan mengeksplorasi masalah lichen terkait dengan fungsinya sebagai bioindikator. Beberapa kriteria dikemukakan untuk bisa mengarahkan bahwa lichen memang layak untuk dijadikan bioindikator lingkungan khususnya mengenai kualitas udara. Polusi udara dapat mempengaruhi kondisi tumbuhan termasuk lichen secara fisiologis. Beberapa jenis lumut kerak dilaporkan dapat menjadi bioindikator yang peka terhadap pencemaran udara. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas tentang lichen dari sisi morfologi, anatomi dan habitat serta keterkaitan lichen dengan polusi udara khususnya polusi yang diseba
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
5

Sholihah, Ghina Aghniatus. "ANALISIS FOSIL FORAMINIFERA PADA SEDIMEN LAUT DI SELAT MAKASSAR SEBAGAI BIOINDIKATOR PALEO-TEMPERATUR PERMUKAAN AIR LAUT." Jurnal Kelautan Nasional 12, no. 2 (2017): 83. http://dx.doi.org/10.15578/jkn.v12i3.6373.

Full text
Abstract:
Perubahan kondisi suhu permukaan air laut berlangsung dari masa lampau hingga saat ini. Informasi tentang perubahan tersebut dapat diperoleh dari fosil foraminifera yang terendapkan dalam sedimen laut. Struktur tubuh foraminifera yang sederhana, sebarannya yang luas serta kemampuannya yang tinggi dalam merespon perubahan lingkungan menjadikan foraminifera berpotensi sebagai bioindikator paleotemperatur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis foraminifera sebagai bioindikator paleotemperatur. Pengambilan sampel fosil foraminifera pada sedimen laut di Selat Mak
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
6

Pribadi, Teguh. "Bagaimana Rayap dapat Digunakan sebagai Bioindikator." Anterior Jurnal 14, no. 1 (2014): 20–28. http://dx.doi.org/10.33084/anterior.v14i1.219.

Full text
Abstract:
Ecosystem alterations not only affect habitat conditions but also have an impact on biotic components. The presence of organisms provides a response of habitat alteration can be used as indication organism. Indication organisms or bioindicator are key components in ecosystem management. This paper aims to evaluate and review the role of termites as bioindicator. Bioindicator defined as organisms or group of organism reflect and inform the ecosystem circumstance; environmental, ecological and biodiversity status as well as. Main criteria of bioindicator are as follow: taxonomical and biological
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
7

Fatmalia, Enida. "ANALISIS CACING SUTERA (Tubifex tubifex) SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN AIR SUNGAI GORONG LOMBOK TENGAH." Jurnal Pijar Mipa 13, no. 2 (2018): 132. http://dx.doi.org/10.29303/jpm.v13i2.544.

Full text
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan distribusi cacing Tubifex tubifex di sungai gorong desa Pengadang Lombok Tengah. Subyek penelitian ini adalah cacing Tubifex tubifex. Jenis penelitin yang dilakukan adalah penelitian deskriptif eksploratif. Adapun fokus kajian penelitian ini adalah (1) keberadaan dan distribusi cacing Tubifex tubifex di sungai gorong desa Pengadang yang dapat dijadikan sebagai bioindikator pencemaran lingkungan, (2) status pencemaran sungai gorong desa Pengadang berdasarkan bioindikator cacing Tubifex tubifex. Teknik pengambilan sampel mengginakan bebera
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
8

Afrilia, Dita, Yusrianti Yusrianti, Abdul Hakim, and Amrullah Amrullah. "STRUKTUR KOMUNITAS MAKROINVERTEBRATA SEBAGAI BIOINDIKATOR UNTUK MENENTUKAN STATUS KUALITAS AIR DI SUNGAI CANDIPARI, SIDOARJO." JURNAL ENVIROTEK 14, no. 1 (2022): 26–32. http://dx.doi.org/10.33005/envirotek.v14i1.175.

Full text
Abstract:
Sungai merupakan ekosistem yang berperan penting dalam kehidupan makhluk hidup yang berada di sekitarnya. Sungai tidak seimbang apabila adanya gangguan seperti aktivitas yang ada di sekitarnya. Sungai Candipari merupakan salah satu sungai sungai tercemar yang dipengaruhi dengan adanya aktivitas di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air sungai dengan menggunakan struktur komunitas makroinvertebrata (indeks keanekaragaman, indeks dominansi, dan BMWP-ASPT). Penelitian ini menggunakan metode biomonitoring dengan bioindikator makroinvertebrata, teknik pengambilan dengan
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
9

Sugianti, Yayuk. "EVALUASI KESUBURAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DENGAN MENGGUNAKAN BIOINDIKATOR FITOPLANKTON DI PULAU KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH." Jurnal Teknologi Lingkungan 16, no. 1 (2016): 9. http://dx.doi.org/10.29122/jtl.v16i1.1606.

Full text
Abstract:
Ekosistem padang lamun mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai stabilitas dan penahan sedimen, mengembangkan sedimentasi, mengurangi dan memperlambat pergerakan gelombang, sebagai daerah feeding, nursery, dan spawning ground. Namun pemanfaatannya ternyata telah menimbulkan permasalahan pencemaran dan mengakibatkan kerusakan. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut digunakanlah fitoplankton sebagai bioindikator, karena beberapa organisme fitoplankton bersifat toleran dan mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan kualitas perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan ting
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
10

Dayana, Mustika Elmi, Abdul Rahman Singkam, and Dewi Jumiarni. "Keanekaragaman Mikroalga sebagai Bioindikator di Perairan Sungai." BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains 5, no. 1 (2022): 77–84. http://dx.doi.org/10.31539/bioedusains.v5i1.3531.

Full text
Abstract:
This study aims to determine the diversity of microalgae and their relationship with water quality in the Air Lais River. The method used is a survey method. The results showed that there were 28 species of microalgae consisting of 7 divisions. The abundance of microalgae at the upstream station was 52 ind/ml, the middle station was 50 ind/ml and the downstream station was 115 ind/ml. The microalgae diversity index at each station was 2.2; 2.2; and 2.59, with a moderate level of diversity criteria. The microalgae dominance index was in the low dominance criteria, with the value of each station
APA, Harvard, Vancouver, ISO, and other styles
More sources
We offer discounts on all premium plans for authors whose works are included in thematic literature selections. Contact us to get a unique promo code!